Saturday, October 27, 2007


Sehari ada 21,6 Triliun kata-kata ...


Manusia itu sungguh luar biasa, disatu keluarga yang hanya terdiri dari empat orang saja sudah berbeda semua, beda rupa, beda selera, beda gaya, beda warna, bahkan beda ucapannya. Dari ucapan manusia-manusia inilah tercetus kata-kata.

Didunia yang katanya hanya selebar daun kelor ini, bertebaran kata-kata yang tentunya lebih banyak jumlah nya dari simanusia itu sendiri. Jika kita anggap jumlah manusia dibumi ini adalah sekitar 5 milyar, sedangkan dari percobaan yang coba dilakukan penulis, ternyata manusia sanggup berkata-kata selama satu jam sebanyak 2160 kata. Ini tidak termasuk pakar-pakar yang senantiasa mampu bercakap berjam-jam lamanya entah itu diseminar, di radio, di tv dan lain sebagainya.

Dengan asumsi yang sederhana saja dimana manusia hanya bertahan selama satu hari mempu bercakap-cakap selama 2-3 jam saja, maka dalam sehari di dunia ini terdapat = 2160 x 2 x 5 milyar = 21.600 Milyar = 21,6 Triliun kata !!! . Bayangkan lagi jika dalam satu minggu, satu bulan, bahkan satu tahun 365 hari, maka jumlah kata yang tercecer dimuka bumi selama satu tahun adalah lebih dari 7800 Triliun kata-kata !!! Subhannalloh..!!!

Kata-kata itu adalah kata-kata yang terucap dari manusia, ini belum lagi dihitung kata-kata yang tidak terucap, tetapi tertulis. Entah itu di buku tulis masing-masing manusia, di email, di chatting, di SMS, di tembok, dikanvas, dikoran, dimajalah, di TV, dikomputer, bahkan diblog ini sendiri sudah tak terhingga rasanya. Mau coba dihitung ? ..

Hehe daripada nambah ngitung yang kata-kata tertulis, mungkin kita coba saja analisa yang terucap oleh bagian tubuh kita yang terletak dibawah hidung ini dulu.

Dalam bercakap-cakap dengan seseorang, kita tentunya tak pernah mulus seperti sebuah cerita, dengan nada teratur, ada pola yang terbentuk, ada ritmenya. Misalkan saja, hari ini diminta untuk memberikan presentasi kepada klien, pastilah banyak hal yang kita coba poin-poin hiperbolik, belum lagi mungkin memberikan janji-janji yang entah apakah janji itu nanti akan bisa dilakukan atau tidak. Belum lagi jika kita mengajar, apakah ada bumbu-bumbu cerita yang ditambah-tambahkan. kalau kita berbicara dengan anak apakah sering memberikan teguran, amarah, dan ucapan-ucapan lainnya.

Segala sesuatunya dalam sebuah percakapan yang kita keluarkan dari mulut ini pasti dalam satu hari ada beberapa kesalahan. Dan kesalahan itu adalah bisa berupa janji palsu, pujian palsu, kebohongan, mengejek, mencaci, menghujat dan hal-hal buruk lainnya. Marilah kita anggap poin untuk itu adalah sebesar 10% saja dari kat-kata yang kita keluarkan dalam sehari.

Dengan perhitungan matematis, maka jumlah kat-kata yang keluar dari mulut kita dan tidak "bermanfaat" bahkan dikategorikan "berdosa" adalah sebesar = 10% x 2160 x 2 jam/hr = 432 kata dalam sehari... Berapa banyakkah itu ??. Yaitu sebanyak kata-kata yang saya tulis sampai dengan tanda titik ini!!.

Jadi intinya, jika anda sudah hidup selama bisa berkata-kata (baligh hingga mati), sudah berpa kata-kata yang sia-siakah yang kita keluarkan dari mulut kita ?... berapa pula banyknya kata-kata yang sia-sia juga dan kita tulis dimana-mana ?...

Wallaahu'alam bishshowab....
~ @Abuafi ~

Thursday, September 20, 2007

Oleh-oleh Imam dari negeri yang disakiti

Tepat pada hari ke-8 dibulan penuh berkah ini, disebuah mesjid ditengah-tengah kampung dibelakang royal plaza surabaya, seorang tamu dari sebuah negara yang dikoya-koya oleh manusia-manusia yang sebenarnya dikaruniai kepintaran tetapi selalu tidak mau beriman kepada Alloh. Palestina, sebuah negeri yang seharusnya dalam kedamaian, sebuah negeri yang dulu adalah sebagai tempatnya sang umat berkiblat.

Imam Besar Masjidil Aqsa syaikh Dr. Muhammad Syam hadir ditengah-tengah jamaah sholat dluhur di masjid.

Banyak hal yang diceritakan sang imam, mulai dari kebiasaan ibu-ibu dipalestine pada saat buka puasa. Mereka selalu senantiasa melakukan acara berbuka puasa dirumah dan di sebuah meja besar dengan menyediakan kursi sebanyak jumlah anggota keluarga.

Jika ada Abi, Ummi, dan 5 anak maka kursinya pun tetap senantiasa sejumlah 7 buah. Dan hal ini terjadi hingga kapanpun, bahkan disaat ini sang ibu pasti akan memberitakan kepada anak-anaknya yang masih kecil, bahwa kursi yang pertama kosong itu adalah disediakan pada abi-nya yang saat ini telah bertemu dengan Alloh, syahid ditembak israel saat intifada.

Kursi kedua yang kosong adalah kakak pertama yang saat ini sedang ada dipenjara israel bersama saudara-saudara sepupunya. Kursi ketiga adalah kakak kedua yang saat ini sedang bersembunyi bersama saudara-saudara seperjuangan HAMAS di perbatasan Gazza. Sehingga sang ibu hanya ditemani oleh dua caloh mujahid kecilnya dirumah itu. Inilah yang saat ini terjadi nyaris diseluruh pelosok Palestina.

Subahanalloh, begitu pedih perjuangan saodara-saodara kita di negeri yang sekarang ini bahkan kitapun sudah nyaris melupakannya..
Yaa Alloh, Bilakah perjuangan ini kan berakhir ?
Yaa Alooh, Bilakah kami juga diberi kesempatan berjuang untuk saodara-saudara kami ?
Yaa Alloh, Ingatkanlah kami akan adanya saodara-saodara muslim yang masih hidup penuh perjuangan berjihad dijalanmu,
Yaa Alloh, Janganlah kami ini hanya ingat kepada dunia kecil kami di Indonesia
Yaa Alloh, berilah setitik ingatan kepada kami sehingga kami kan senantiasa memberikan apapun pada saodara-saodara kami...
Alloohu Akbar !!! Alloohu Akbar !!! Alloohu Akbar !!!


~@Abuafi ~

Tuesday, September 04, 2007

Tuesday, February 27, 2007

Si Kuning Langsat

Kerudung hitam yang dikenakannya tampak sudah lusuh dimakan usia sebagaimana mengiringi perjuangan saat ia duduk ditikungan tajam di pojok sekolah. Sebuah tenda kecil bertiang bambu setinggi satu meteran dengan atap rumbainya yang dari ilalang kering. Wajahnya tampak lusuh, sambil sesekali tangan kecil itu mengusap keringat di dahi dengan kain batik gendongnya. Sebuah bakul rajutan bambu yang biasa disebut rinjing tergeletak begitu saja tanpa ada isinya.
Tepat jam tiga subuh tadi ia berangkat bersama kelima rekannya dari lereng lawu naik truk kecil yang dinunuti karena tujuannya sama, ke pasar matesih. Tak ada yang dibawanya kecuali batik gendong dan rinjing kosong itu. Beberapa lembar uang ribuan sengaja dibawa sebagai bekal dalam usahanya hari ini, sekitar dua ratus ribuan saja. Dan setelah satu jam melalui hutan desa, sawah, dan rintangan jurang-jurang yang senantiasa teriring sepanjang jalan, sampailah di pasar matesih yang masih sepi.

Langkah pertama cukup dilakukannya dengan duduk manis dipojok tikungan jalan itu, dan tak berapa lama kemudian sebuah motor berkeranjang tampak datang menghampirinya tanpa ada sapa basa-basi. Tidak sampai sepuluh menit, isi keranjang di sepeda motor tampak sudah berpindah sebagian ke rinjing tua yang dibawanya. Tampaknya rekannya yang lain juga tertarik dengan isi keranjang sang pemilik sepeda motor itu. Sehingga dalam waktu setengah jam saja, sepeda motor itu sudah tidak lagi kelihatan di sekitar pasar. Akhirnya proses tahap kedua telah dilakukan, ia telah membeli barang dagangan dari sipemilik sepeda motor. Tahap ketiga yang perlu dilakukannya adalah memajang dagangannya di tenda kecil itu. Menanti satu-persatu orang yang lalu lalang dan ditawarinya sebuah barang yang dikenal juga sebagai si kuning langsat. Iya isinyalah yang menyebabkan disebut seperti itu. Kenyal dan berwarna kuning serta sangat nikmat.

Siapa yang tidak tahu si kuning langsat ni ? Sebagai orang indo, atau asia pasti tidaklah asing dengan buah yang baunya sangat 'merangsang' banyak orang. Yang merasa aneh mungkin orang barat, karena memang buah ini tidak berasal dari sana, tapi dari Indonesia, Malaysia, dan Brunei. Bahkan ternyata buah ini berawal dari salah satu pulau di Indonesia, yaitu Borneo. Sebuah pulau di utara java yang sekarang kita sebut dengan Kalimantan. Tetapi yang tampak didepan mata saat ini bukanlah di Borneo, di sebuah desa, di sebuah pasar Matesih yang kecil dan sepi. Sang ibu berkerudung hitam terlihat masih menjajakan duriannya, mungkin tinggal dua puluh hingga tiga puluhan biji.

" Pinten niki bu ?" tanyaku langsung kepadanya, berapa harganya. " Meniko mas, wonten kaleh welas duren, sedoyo sangang doso kemawon". Ditawarkannya kepadaku langsung sebanyak dua belas biji dengan harga sembilan puluh ribu.

" Lho kok kaleh welas ? mboten saget mundut setunggal tho bu ?, aku heran kenapa kok ditawarin harus beli dua belas biji, tidak bisa beli biji-an.

" Oh, anu mas. Soale meniko sampun radi siang. Menawi jenengan pendet sedoyo. Kulo enggal saget langsung wangsul. Duren niki sae kok mas, kuning lan kandel. Monggo jenengan pirsani lan dicicipi mawon." Karena memang hari sudah agak siang, sekitar jam sembilan, ia ingin segera pulang sehingga langsung jual banyak. Sambil membelah sebuah duren yang paket dua belas biji tadi dan mengiris dagingnya untuk kemudian diberikan kepadaku.

" O, ngaten tho. pas-e mawon pinten bu, wolung doso mawon nggih.", kucoba tawar, walau sebenarnya agak kasian. Karena durennya ternyata memang sudah murah sekali. Satu biji nggak sampe sepuluh ribu, bandingkan saja dengan Monthong yang satu biji bisa sampe enam puluh ribu. Apa lagi ternyata setelah dicicipi memang sangat nikmat, kenyal dan manis-manis pahit, khas duren sebenarnya.

" Aduh nyuwun ngapunten mas, lha kulo wau mendete sampung wolong doso. Nggih sampun wolung doso gangsal kemawon. Monggo ". Ia menawarkan hargga akhir delapan puluh lima ribu rupian untuk kedua belas duarian tadi, ia mengaku kulakannya seharga delapan puluh ribu.

" Leres nggih bu, nggih sampun nek ngaten. Kulo cubi ingkang sanese nggih." Akhirnya aku setuju, tetapi terlebih dahulu aku ingin mencicipinya satu persatu. Kelihatannya memang durian yang baru saja jatuh dari pohon, terlihat dari kondisi buahnya yang tampak sudah agak membuka dengan tidak terlihat bekas goretan pisau pada pucuk buahnya.

Begitu sampai dirumah, seluruh anggota keluarga langsung melahap dengan nikmat. Subhanalloh ternyata tujuh orang hanya mampu menyantap empat biji saja. Sisanya bahkan sama sekali tak tersentuh. Dan ternyata, seluruh yang makan merasakan kenikmatan yang sungguh luar biasa, benar-benar nikmat, tiada rasa tiada tara.

Saat makan itu terpikir dalam pikiranku, ibu tadi sepertinya tidaklah memperoleh untung yang lumayan dalam sehari. Jika setiap seratus ribu ia ambil untung sepuluh ribu, berarti dengan uang yang ia bawa sebesar tiga ratus ribu, hanya bisa memperoleh keuntungan tiga puluh ribu sehari, dalam sebulan berarti tidak sampai satu juta rupiah. Tidak terbayangkan olehku jika ia hidup dikota surabaya yang sangat keras ini, uang sembilan ratus ribu sebulan mungkin hanya cukup untuk makan saja.

By The Way, Alloh Maha Adil.

Monday, February 12, 2007

Hiduplah Hidup...


Sang Api di ufuk menerang
Sanak kadang bangun melayang
Beriring jalan tatap ilalang
Kedepan jauh, tak menerawang
Putri tidur banyak merintang
Tinggi dan tajam slalu menghadang
Indah pandang luas terbentang
Bibit unggul siap dibentang


Kata Orang,
gugur satu tumbuh seribu
Tapi kau .. makin sayu
Sehari ... biasa
Seminggu ... merana
Sebulan ... derita
Setahun ... sengsara




Sang api makin benderang
Dunia makin gemerlang
hati makin terang
walau rintangan kian terjang

Hidup hanya sekali
Hidup penuh arti
Hidup tiasa diri
Hidup ...


Hiduplah hidup ...

Surabaya, 13 Feb '07

Monday, January 29, 2007

Truutt.. truuttt
getar dan lengking ha pe tidak tersaring
mata lembab dahi berkerut
bibir malam rasa mengering
Rona merah mengembang
Sebelah timur diawang-awang
harapan cerah menerawang
indah pagi untuk dipandang
Tepat pukul empat lebih sepuluh
sudah waktunya sholat subuh
Hilangkan rasa dan keluh
semangat pagi takkan luruh
Satu sampai sepuluh ayat
Al Qur'an serasa nikmat
makin terasa hati kuat
Takkan jadi orang dilaknat
Bangunkan anak saat pagi
Satu-satu mereka grogi
Langsung jatuh didepan kursi
karena mata masih sebiji
Cosmos SCTV menu sahur
Susu dancow iringi tidur
sambil minum diatas kasur
nikmat anak belum berumur
Pagi..
hadirlah engkau setiap hari..
Abuafi
Surabaya, 29 januari 2007

Tuesday, December 26, 2006

The Messenger ....
@abuafi
Surabaya, 26 Des '06
" Ada peluang bisnis lho mas.."
" Si kecil umurnya berapa ?.. "
" Mbak yang disini belum masuk yaa ?"

Kata demi kata yang ceria begitu terasa, begitu berat dan serak-serak basah. Memang bahasanya terasa standar, bahasa yang mungkin bagi saudara-saudara yang sering ke terminal sangat terasa familiar. Dan ternyata tidak hanya omongannya yang familiar, tetapi orangnya juga sangat mengasikkan, begitu dekat, terasa seperti bicara dengan teman yang sudah lama kenal. Orang yang hangat dan ramah.

Tangan kecil dengan guratan nadi yang nampak menutupi tulang kecilnya senantiasa memegang dengan erat ilmu-ilmu yang banyak dibutuhkan orang. Kepala gundulnya selalu dalam keadaaan klimis seperti tentara, potong pendek. Mungkin dia punya cita-cita jadi tentara tetapi tidak jadi. Baju yang putih transparan memperlihatkan badannya yang kurus kering dengan tulang-tulangnya yang masih kelihatan. Walaupun matanya sepertinya yang berfungsi hanya satu, tetapi senyuman dari mulutnya senantiasa terkembang. Senyum manis seorang kakek kepada sang cucu.

"Mbah, sekarang cucunya lagi dimana nih", seseorang menyeletuk dengan pertanyaan yang selalu sama ditanyakan kepadanya setiap minggu.

"Oh, tenang ajah.. ini nih sekarang dia lagi cari pacar. Ada yang mau ?" seraya ditunjukkan tabloid 'Nyata' yang menampilkan selebriti Dian Sastro.
Benar, memang namanya adalah Sastro. Kami biasa memanggilnya Mbah Sastro.

Dikantor dengan jumlah karyawan yang lebih dari lima ratus orang ternyata rata-rata mengenalnya. Itu belum termasuk dengan teman-teman dari office boy, teman-teman security dan juga tenaga kerja mitra yang terlibat dikantor ini. Jika dihitung mungkin bisa mencapai seribu orang yang tahu tentang dia. Karena mungkin minimal seminggu sekali setiap orang akan bertemu dengannya.
Minimal dalam satu minggu sekali aku selalu memperoleh informasi, berita, ilmu, wawasan, bahkan sampai yang masalah kasus seks anggota DPR itupun ada. Jika dia tidak datang, maka bisa dipastikan ada waktu yang terbuang untuk mencari informasi di tempat lain. Dialah yang membawa itu semua hingga bisa hadir dimeja saya. Dan yang melakukan filter, tentu adalah diri sendiri, mana yang perlu masuk, mana yang perlu keluar.

Sepeda motor butut berwarna merah, dengan boncengan yang diberikan tutup kulit seperti pelana kuda, penuh diisi oleh ilmu-ilmu yang disebarkannya kepada setiap orang yang menginginkannya. Tidak peduli apakah dia hanya seorang office boy, tidak peduli apakah dia hanya seorang satpam, atau bahkan dia seorang pejabat tertinggi dengan gaji dua puluhan juta perbulan. Semuanya dia layani secara personal, mengalahkan apa yang perusahaan sebut dengan excellent service. Dia sudah lebih dari itu.
Mungkin, banyak orang yang menyepelekannya,
mungkin banyak orang yang melupakannya,
mungkin banyak orang yang tidak menyadari kehadirannya,
mungkin pula banyak yang tidak tahu kalau dia itu ada....

Dan, inilah Sang Loper, "The Messenger" ...
Terima kasih Mbah, terima kasih atas 'ilmu'nya...

Wednesday, December 06, 2006

Poligami lagi..
@Abuafi
Surabaya, 6 Desember 2006

Saya bukan seorang yang tahu tentang agama dengan benar, maka ulasan ini saya sampaikan dengan logika saja ;

Jikalau saya mempunyai teman, jika saya mempunyai anak buah, ataupun jika saya adalah seorang tokoh, maka saya punya 'sesuatu' yang lebih yang mana saya tahu akan hal itu dan bisa mengendalikannya sehingga bisa membuat saya disegani-dikagumi,.. dan tentunya mungkin juga dicela.

Jika saya yang punya 'sesuatu' itu maka setiap apapun yang akan saya lakukan, entah mau pake baju apa, mau naik mobil apa, mau pergi kemana, mau tinggal dimana PASTI akan saya rencanakan terlebih dahulu, dan pasti di'hitung' dulu plus minusnya. Jika saya pilih pakai blangkon (adat jawa) pada acara rapat diperkantoran pasti jelas banyak minusnya, jika saya pakai dasi maka akan banyak plusnya.

Bagaimana keterkitan dengan Aa' Gym ?
Seorang tokoh seperti Aa' adalah seorang tokoh yang saya tahu sebagai seorang yang penuh karisma, seorang yang dulunya adalah orang biasa saja hingga akhirnya menjadi seorang ulama yang sangat disegani. Mulai dari dibandung tahun 90-an saya sudah mengikuti dan mengamati kegiatan beliau, mulai dari sebuah mesjid kecil di pinggir jalan yang mungkin bisa dikatakan tidak layak sebagai mesjid, mulai dari kondisi sekitar yang saat itu masih sangat kotor dan semrawut. Hingga akhirnya saat ini (enam belas tahun kemudian) ternyata sangat-sangat tidak saya perkirakan bahwa Daarut Tauhiid bisa menjadi sebesar itu, Masjid yang indah, lingkungan yang bersih, lingkungan yang islami, Penginapan islami, Cafe islami, dan tentunya kegiatan-kigatan yang islami menjadi sebuah konsep islam yang sangat indah. Dan semua itu tentunya tidak begitu saja terjadi bukan ? semua itu ada prosesnya, semua itu ada rencana yang pasti dipikirkan efek positif-negatifnya. Hal yang tidak mungkin adalah, bahwa semua itu terjadi begitu saja, emangnya Tuhan ?

Dengan melihat hal tersebut, maka apabila seorang tokoh seperti Aa' Gym melakukan sesuatu hal seperti 'POLIGAMI", apakah itu tidak pernah direncanakan sebelumnya ? apakah tidak dipikirkan efek positif-negatifnya ? apakah tidak dikonsultasikan pada yang lebih tahu ? apakah tidak... ?
jawabannya .. adalah TIDAK.
Ini bukan karena saya menganut pro atau kontra poligami, tetapi sebagai seorang tokoh, pasti beliau melakukan proses-proses itu dulu, beliau pasti memikirkannya.
Apakah jika dilakukan akan menjadi polemik,
Apakah jika dilakukan maka bisa terlihat jamaahnya mana yang menyukainya hanya karena keteladanannya,
Apakah jika dilakukan maka jamaah wanitanya jadi terseleksi alamiah,
Apakah hal ini sesuai syariat,
Apakah hal itu menjadi contoh bahwa biar masy tahu kalau poligami itu tidak dilarang di islam dan merupakan hal yang wajar,
Apakah hal itu bisa membantu banyaknya wanita-wanita yang saat ini sangat banyak sekali (lebih besar dari pria),
Apakah sebenarnya jika dilakukan oleh pria lain (yg adil) maka bisa membantu akhwat-akhwat lain yang saat ini banyak yg belum menikah hingga lebih dari kepala tiga ?
Dan.. apakah-apakah yang lain.

Saya yakin, dengan melihat proses Aa' yang dulunya bukan apa-apa hingga menjadi 'seseorang' seperti saat ini adalah sudah dipikirkan masak-masak. Saya percaya dengan beliau.

Yang menarik saat ini sebenarnya adalah,
Kenapa SBY ingin mengutak-atik UU Perkawinan tentang aturan Poligami ?? hanya karena banyaknya SMS masalah poligami Aa' Gym yang masuk ke beliaukah ?
Kenapa kasus seks anggota DPR yang berbuat amoral itu tidak menarik dia sehingga segera mengundangkan UU anti Pornografi ?????

Wednesday, November 08, 2006

Nggeelinding..

Bentuk benda ini memang tidak asing, nyaris semua orang mengenalnya. Dari anak kecil sampai kakek-kakek menyukaainya. Saat masuk TK bahkan Play Group sudah diperkenalkan dengan bentuk ini. Dan tidak ada satupun yang mau memprotes bentuknya ini, karena memang tidak ada yang salah.

Bola, sebuah istilah yang tidak aneh, tidak asing, tidak bermutu, tetapi menarik. Bola ada dimana-mana, mulai dari kutub utara hingga kutub selatan, mulai dari mekkah hingga amerika, sudah biasa dengan permainan satu ini. Mungkin saudara akan membayangkan perihal pertandingan sepak bola. Iya itu memang benar, tetapi kali ini bukan perihal bola kaki yang diceritakan disini. Sebuah game yang tampaknya tidak semua kalangan bisa menikmatinya. Sayang memang, game ini biasanya disebut dengan 'Bowling'.

Memang tak layak sebenarnya kalau ini dikatakan salahsatu olahraga, sebagaimana halnya dengan catur, kartu, billyard, dan lain-lain. Semua itu memang hanya layak dikategorikan sebagai "Game" bukan "sport", hanya sebuah permainan yang perlu trik-trik khusus dalam permainannya. Lain halnya dengan Olah raga, itu benar benar melakukan olah badan, olah fisik, mengolah bentuk fisik tubuh kita menjadi lebih baik.

Tuesday, September 19, 2006

Ibu
@abuafi
28 Agustus 2006


Disebuah lereng gunung lawu terdapat kabupaten kecil bernama Karanganyar. Tepatnya kamis legi jam tiga sore saat Adzan Ashar berkumandang, seorang Ibu muda yang berusia sekitar dua puluh enam tahun berusaha menahan kelahiran bayinya karena menunggu ibu bidan yang akan membantu persalinan.
Tetapi tampaknya takdir berkehendak lain, Sang bayi itu terpaksa keluar sendiri dari perut yang besar itu tanpa bantuan siapapun hanya ibunya sendiri

Saat ini Sang bayi sudah bisa menulis, walaupun belum pernah menulis cerpen, tetapi tetap nekat, dan inilah hasilnya.
Dari seorang penulis yang belum pernah menulis, hanya mencatat sesuatu yang tidak ditulis.
Karya ini adalah karya pertamanya…seorang pemula.
Karya yang terinspirasi dari sang Ibu
Dan mohon maaf jika kisah ini disajikan secara bersambung mulai sesi satu hingga sesi enam.
Terima kasih jika ada yang mau memberikan komentarnya secara langsung (abuafi@yahoo.com)

Diawali dengan BISMILLAAHI ROHMANI ROHIM : SABTUNYA IBU
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sabtunya Ibu : Kring…
Sesi-1

Sabtu, Tiga belas Agustus tahun dua ribu lima.
"Kringg.. Kringgg “

Telingaku yang sensitif langsung kaget dibuatnya, dengan mata yang masih sembab, ku ucek-ucek mataku sambil melirik jam dinding mickey mouse kesukaan anakku diatas lemari. Masih pagi sekali, jam empat lebih lima menit.
“mbak Rani kah ?“
Dua hari lalu, ada kabar dari adikku Fatimah, saat itu kebetulan adalah waktunya dia bayar hutang ke bapak atas pembelian mobil yang sekarang dikendarainya, jadi dia menelepon dulu ke klaten. Saat itu, dia menceritakan kalau bapak tidak ada dirumah, ternyata sedang kerumah sakit mengantar ibu. Mendengar itu, saat itu juga aku telpon ke handphone bapak,
"Nggak papa kok, ibu tadi malem muntah-muntah dan ada sedikit darah, jadi langsung bapak bawa ke RS.PKU Delanggu. Insya Alloh kondisinya sekarang sudah mendingan. Ibu sedang tidur nyenyak."
Hari itu adalah hari dimana ibu pertama kali masuk dan dirawat dirumah sakit, ya seumur hidupnya.
"Alhamdulillah, mugi-mugi ibu enggal sehat nggih pak"
Walau dalam hatiku masih merasakan adanya sesuatu yang mengganjal, tapi entah apakah itu. Dan jawabannya baru kutahu dua hari kemudian, hari ini. Aku percaya penuh atas jawaban bapak. Ternyata inilah kesalahan fatal pertamaku, terlalu nggampangno dan rada tidak 'care' sama keluarga, jawaban bapak tidak kulanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan lain yang menunjukkan ‘care’ ku pada ibu.
Kesalahan kedua muncul pada hari jum'at, aku menyanggupi ikut temen-temen kantor untuk bersama-sama rafting atau yang biasanya disebut juga dengan arung jeram di Sungai Pekalen Ponorogo pada Sabtu pagi jam lima. Karena memang akulah yang sebelumnya memanas-manasi mereka, bahkan sempat kirim email ke mailing list kantor memberikan pengumuman. Untuk peserta Rafting agar besok sabtu kumpul jam lima tepat di halaman kantor dan berangkat naik BUS.
Jum'at itu aku disibukkan dengan persiapan untuk esok hari mengikuti rafting di Sungai Pekalen Probolinggo. Saat membeli sepatu sandal yang bahannya musti kedap air kupilih sepasang sandal bermerk New Era karena kebetulan selain modelnya cocok untuk dipakai di sungai, saat itu sedang diskon. Memang memakai sepatu sandal lebih baik daripada menggunakan sepatu sport, repot sekali jika kemasukan air akan mudah rusak dan berat, belum lagi kakinya jadi lembab. Baju dan celana ganti tidak lupa kusiapkan sepasang, karena pasti akan basah kuyup terkena air sungai walaupun sebenarnya bisa juga beli kaos di toko Regulo rafting disana. Celana kupilih yang tiga perempat dengan bahan tipis tapi tidak mudah sobek, celana yang juga biasa untuk naik gunung. Celana olah raga panjang atau yang biasa disebut training tidak kupilih karena takutnya juga akan jadi berat jika terkena air sungai. Yang terakhir adalah perlengkapan mandi. Kebetulan aku sudah siap dengan tas kecil yang berisi sabun mandi gel, sikat gigi pendek berhelm, shampoo, dan handuk kecil. Tas kecil itu memang sudah siap, khusus untuk kegiatan saat aku dikirim keluar kota. Semua kebutuhan untuk rafting sudah selesai. Siap berangkat. Malam sabtu itu semua barangku untuk rafting sudah siap dan diletakkan di ruang tamu,
"tinggal angkat kaki besok pagi.." pikirku
Sehabis mempersiapkan segala sesuatunya, aku masih sempat menelepon dek fatimah. Dia punya rencana akan ke klaten, tetapi aku belum tahu kapan dia berangkat.
“ Hallo, Assalaamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam. Mas Rohim ya ? ada apa mas ? ”
Aku baru sadar jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Mungkin aku terlalu bersemangat untuk menghadapi rafting besok.
“Jadi pulang nggak ? kapan ?“
“ Oo itu tho, Insya Allah nanti jam sepuluh nanti mas. Mau bareng ?”
Dia memang tinggal tak jauh dari rumahku, sama-sama di surabaya. Hanya dia di Surabaya barat, aku diselatan. Kalau dihitung dalam satuan waktu, hanya sekitar sepuluh menit saja. Dengan santainya aku ngomong ke dek Fatimah,
“Malam ini ? sori ya aku nggak bisa sekarang soalnya masih ada acara kantor dulu”
kujelaskan kedia, bahwa besok pagi ada acara bersama teman-teman kantor yang mungkin siang hari sudah selesai.
”Kalo gitu aku titip salam ya buat Ibu, aku baru bisa berangkat ke sana besok siang setelah acara rafting ya. Jadi mungkin sampe sana baru malam minggu”
Tak kusadari, inilah kesalahanku yang ketiga.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sabtunya Ibu : Berangkat…
Sesi-2
“KRINGGGG"... semakin keras,
Dug-dug-dug, jantungku berdetak semakin cepat, mungkin kalo biasanya kondisi normal nadiku adalah tujuh puluh denyut permenit berubah drastis menjadi dua kali lipat, seratus empat puluh denyut permenit. Setiap ruang jantungku terasa mengendur dan terisi darah lebih cepat dari biasanya. Berkontraksi dan memompa darah keluar dari ruang jantung. Karena sangat cepat, dan didukung pula oleh kondisi saluran pembuluh darahku yang kata dokter mengalami penyempitan, maka darah yang seharusnya kaya akan oksigen dan beredar melalui pembuluh darah keseluruh tubuh ini malah membuat pernapasanku agak tersengal-sengal. Langsung aku berlari kearah telepon yang ada di ruang tamu itu dan kuraih gagangnya cepat-cepat.
"Assalaamu'alaikum..".. sambil kucoba tenangkan diri.
"Wa’alaikumumsalam" nada suara perempuan yang sudah kukenal
“Ini mbak Rani ya ?”
“Iya, aku Rani, aku isih ning rumah sakit sekarang, cepet ndang mulih dik, Ibu gerah nemen”
Rani, kakakku angkatku yang sekarang tinggal dekat dengan rumah hanya menyampaikan kalimat yang kalau diketik di komputer mungkin nggak sampe satu baris. ”Klik”
Teleponnya langsung mendengung. Aku terdiam, tanpa sempat meletakkan gagang telepon itu ketempatnya semula.Hingga akhirnya,
"Allahu akbar - Allaahu akbar"
Suara adzan masjid samping rumah langsung mengingatkan dan membuatku segera bergerak.
"Ya Alloh, berikan kekuatan kepada ibuku"
Segera setelah membangunkan istri dan anak-anak, kuambil air wudlu untuk persiapan sholat dimasjid. Kuceritakan berita yang disampaikan Mbak Rani tadi kepada istriku, kuminta untuk segera mempersiapkan segala sesuatunya.
“Bune, selesai sholat, kita langsung berangkat ya, tolong kasih tahu juga temen kantorku kalo aku nggak jadi ikut rafting. Bawa baju secukupnya saja.”
Kuputuskan akhirnya tidak ikut rafting, walau sebenarnya itu adalah keputusan yang rada berat bagiku, aku sangat menyukai olahraga berbau petualangan ini. Tapi mungkin ini keputusan yang terbaik.
Setelah menitipkan kunci rumah ke tetangga samping dan pamitan padanya, aku langsung masuk mobil yang disopiri istriku dulu, karena kalo aku yang nyetir pasti tidak akan bisa tenang. Tadinya aku ngotot ingin nyetir.
“Nanti aja mas kalo sudah sampai Nganjuk, sekarang baca-baca aja dulu sambil jalan dan juga berdo’a”
Sebelum berangkat sempat bawa buku-buku yang kiranya perlu untuk dibaca. Memang sebelumnya tak terpikir olehku, tanganku secara otomatis mengambil buku kumpulan do'a, mudah-mudahan bisa mengingatkanku akan doa-doa yang sudah lama tidak kubaca. Dan buku Fatwa Kontemporernya Yusuf Qardawi, kalau buku ini aku hanya kebetulan saja sedang membaca ulang kembali dan belum selesai. Perjalanan dari Surabaya ke Nganjuk cukup jauh dan melelahkan, akan memakan waktu lebih dari dua setengah jam. Mudah-mudahan istriku kuat. Baru setelah itu aku akan melanjutkan sisa perjalanan dari Nganjuk ke Klaten yang masih memakan waktu empat jam lagi. Sehingga harus dimanfaatkan benar waktu yang panjang ini.
Ingatanku kembali pada telepon pertama dini hari tadi, setelah sholat witir aku langsung menelepon mbak Rani untuk menanyakan apakah dik fatimah sudah sampe disana atau belum, karena dia sudah berangkat sekitar jam sepuluh malam. Perjalanan malam, biasanya akan lebih lancar, jadi pasti sekitar lima jam perjalanan saja.
Dik Fatimah belum sampai, tapi mungkin sebentar lagi katanya. Akhirnya kutanyakan kondisi ibu, hampir lima belas menit mbak Rani cerita mengenai kondisi ibu di rumah sakit. Malam sabtu itu ibu sudah rada sehat, bisa ngobrol enak dengan para tamu, bahkan ibu sempat mengatakan
"Sesok aku wis muleh kok, wis podo muliho kono, wis jam sewelas lho"..
Hampir sepuluh orang ngumpul disana, mulai dari bapak, adik-adik bapak, keponakan dan teman-teman ibu pada malam itu memang masih menemani diluar ruangan sampe ibu tertidur. Dan setelah permintaan ibu itu, sekitar jam sebelas malam semuanya pulang, kecuali bapak dengan Ibu.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sabtunya Ibu : Isih Kuwat…
Sesi-3
Dini hari sekitar jam satu bapak terbangun karena mendengar suara-suara gaduh dan dilihatnya kasur yang dalam kondisi kosong, Ibu tidak ada ! tidak ada di tempat tidur. Tampak diruangan itu banyak kotoran tinja berceceran dimana-mana, mulai dari atas kasur lalu turun dibawahnya dan ternyata dilantai juga sangat banyak mengarah ke kamar mandi yang ada didalam kamar. Ibu memang dirawat di VIP Room yang cukup memadai untuk RS PKU Muhammadiah selevel kabupaten kecil, sehingga kamar mandi dalam kamar juga tersedia.
Dan ternyata ibu sudah ada dikamar mandi dengan penuh kotoran, tetapi kelihatannya dalam kondisi lemas. Dengan gerakan cepat bapak segera membantu ibu dengan memegangi dan menyangga tangannya agar tidak terjatuh di kamar mandi.
”Mboten nopo-nopo kok mas, aku isih kuwat”
Ibu tampak sekali sebenarnya tidak ingin merepotkan bapak, makanya tadi tidak membangunkannya. Ibu memang orang yang biasa mengerjakan segala sesuatunya sendirian, biasa mandiri. Bakat yang memang sudah tertanam sejak dari kecil. Kondisi hidup saat itu yang memaksa munculnya hal itu. Setelah membopong ibu ketempat tidurdengan tertatih-tatih berjalan menuju kasur, bapak kembali membersihkan semuanya hingga ruangan itu kembali bersih. Ibu terdengar rada mengeluh dan tampak tidak tenang, tidak bisa tidur. Seperti biasa, bapak segera memanggil suster yang ada di ruang tengah.
"Suster, tolong Ibu dikasih penenang ya tampaknya sulit tidur, kasihan".
Bapak juga menelepon mbak Rani agar bisa datang dini hari itu menemani Ibu, karena Ibu juga memanggil-manggil nama mbak Rani. Suntikan yang diberikan suster melalui saluran infus itu langsung terlihat dampaknya. Ibu tampak tenang dan tertidur sambil tersenyum,terlihat sekali ketenangannya bila dibanding tadi saat buang air besar yang tampak sayu. Mbak Rani datang.
"Tolong jaga Ibu sebentar, Ran. Aku arep Sholat sik",
Kebetulan memang saat itu masih jam dua pagi, dan melihat kondisi ibu yang udah menikmati tidurya, bapak jadi agak lega. Dikamar itu juga bapak langsung sholat malam. Mbak Rani dengan tenang memegang tangan ibu,
"kok aneh ? agak dingin tangan ibu" tanyanya dalam hati.
Diperhatikannya Ibu dari atas hingga bawah. Seorang wanita tua dengan rambut hitam diselingi uban keputih-putihan yang terurai sebahu tampak kusut seperti tak pernah keramas. Dahinya berkerut tak berurut, tertutupi oleh helai-helai rambut yang pajang. Tetapi ada dua tanda hitam didahinya masih terlihat jelas, tanda yang biasa tampak pada orang yang sangat rajin sholat. Insya Alloh memang ibu hampir setiap hari melakukan sholat malam bersama bapak. Lesung pipi menghias pipi cantik yang orang jawa bilang ‘dekik’ itu memang sudah agak tidak kelihatan, tapi dengan keunikan lesung pipinya inilah yang mengambarkan bagaimana cantiknya ibu saat muda dulu, seorang putri solo juga. Klaten tempat kelahiran ibu adalah termasuk bagian dari karesidenan surakarta, atau yang biasa dikenal dengan kota solo. Sehingga wajar saja jika disebut juga putri solo. Lagu keroncong ”Putri Solo ” sesuai mengiringi Ibu.
Putri solo yen ngguyu dekik pipine, ireng manis kulitane, dasar putri solo..
Hidungnya memang tidak semancung orang arab, tapi agak sedikit mbangir. Sama persis dengan hidungku yang mancung kedalam, kata bapak. Hidung orang jawa, kata orang-orang rata-rata adalah pesek. Jadi kalau mbangir malah nanti dikira orang arab. Ibu masih menggunakan baju daster batik berwarna biru kesukaannya yang dibeli dari pasar klewer solo. Hampir seluruh kios yang ada dipasar klewer menjual batik, mulai dari kaos batik, kemeja batik, bahkan celana batik, tetapi belum ada pakaian dalam batik, tidak menarik mungkin. Harganya memang cukup murah disana, tetapi harus pintar-pintar menawar, jika tidak bisa-bisa memperoleh harga tiga kali lipat dari harga normal.
Senyum manis dimulut yang kecil seperti tidak menyiratkan kesakitan yang dialaminya. Dokter di rumah sakit kecil itu belum bisa memastikan jenis penyakitnya, walaupun telah mengundang dokter spesialis internist dari rumah sakit umum dr. Moewardi di Solo. Ibu memang jarang sekali mau periksa ke dokter. Bisa dihitung dengan jari kalau selama hidupnya itu periksa kedokter nggak sampai lebih dari sepuluh kali. Jika kadang terasa nyeri dikepala atau sakit perut pasti selalu membeli ’pil ajaib’ yang terdiri dari tiga butir kapsul di sebuah toko jamu kecil di pasar delanggu. Dan ajaibnya, ibu selalu merasa lebih enak setelah minum obat itu, mungkin itu yang dinamakan sugesti. Dimana mana sugesti itu memang senjata paling ampuh dalam menyembuhkan suatu penyakit. Sayang sekali sepertinya tidak ada dokter ataupun psikiater yang mencoba mendalami pengetahuan sugesti ini. Hal yang sebenarnya juga sama dengan yang sering aku alami, hanya kalau aku pasti merasa sehat karena sugestinya adalah setelah diperiksa dokter spesialis. Suatu ketika, aku diminta ibu membelikan ’obat ajaib’ itu, dan kutanya kepada ibu tua yang jual disana, sebenarnya obat apakah itu, dia hanya menjawab,
”Obat kesel mas”, sudah itu saja.
Kuminta lebih diperjelas lagi, dengan santai dan sambil mesem dia langsung pergi melayani pembeli yang lain. Hingga saat ini, belum pernah aku mengetahui jawabannya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


Sabtunya Ibu : Grideh desanya …
Sesi-4
Jari jemari ibu ditutupi oleh kulit agak keras, urat-urat syaraf menonjol kehijauan menutupi keriput-keriput yang tampak pada tangannya. Telapak tangan yang cukup kasar melukiskan jejak-jejak kehidupan yang telah ditempuh Ibu, dimana saat kecilnya hanyalah anak dari seorang petani yang juga pejuang perang dari desa Grideh kabupaten Klaten.
Klaten adalah sebuah kabupaten yang sebenarnya cukup ramai, karena merupakan daerah transit, berada diantara dua kota besar, yaitu solo dan jogja. Bila melakukan perjalanan dari solo ke jogja maka akan melalui klaten yang tepat berada ditengah-tengahnya. Posisi yang terletak diantara gunung Merapi dan pegunungan Seribu membuatnya menjadi daerah yang subur. Walaupun ada juga daerah yang tidak begitu subur disekitar selatan berbatasan dengan gunung kidul.
Ibuku pernah bercerita bahwa sebenarnya kata Klaten berasal dari kata “kelati” atau buah bibir. Kata “kelati” ini kemudian mengalami disimilasi menjadi Klaten. Tapi ternyata cerita tentang klaten tidak cuma itu, beliau juga mengatakan bahwa ada versi lainnya menyebutkan kata Klaten berasal dari kata Melati. Dari Melati kemudian berubah menjadi Mlati dan berubah lagi jadi kata Klati, sehingga akhirnya karena agar memudahkan pengucapan maka dari kata Klati berubah lagi menjadi kata Klaten. Sebenarnya Melati adalah nama seorang Kyai yang pada kurang lebih lima ratus enam puluh tahun yang lalu datang di suatu tempat yang masih berupa hutan belantara. Kyai Melati Sekolekan, nama lengkapnya, menetap di tempat itu. Makin lama semakin banyak orang yang tinggal di sekitarnya, dan daerah itulah yang menjadi Klaten yang sekarang. Sedangkan dukuh tempat tinggal Kyai Melati lantas diberi nama Sekolekan. Nama Sekolekan adalah bagian dari nama Kyai Melati Sekolekan. Sekolekan kemudian berkembang menjadi Sekalekan, sehingga sampai sekarang nama dukuh itu adalah Sekalekan. Di Dukuh Sekalekan itu pulalah Kyai Melati dimakamkan. Kyai Melati dikenal sebagai orang berbudi luhur dan lagi sakti. Karena kesaktiannya itu perkampungan baru itu aman dari gangguan perampok. Setelah meniggal dunia, Kyai Melati dikuburkan di dekat tempat tinggalnya. Cerita yang membuatku menjadi semakin merindukan kampung halaman.
Desa ibuku yang bernama Grideh juga sangat amat subur, dengan pengairan yang tidak mengenal musim karena dialiri terus dari sumber air Cokro Tulung dimana sekarang sudah pula dibisniskan menjadi air minuman dalam kemasan seperti Aqua, maka area persawahan yang walaupun hanya sepetak itu sangat membantu menghidupi keluarganya. Keluarga yang hanya berdua, tanpa kakek. Kakek sudah lama tidak ada, mulai usia lima tahun, ibu sudah hidup hanya berdua dengan nenek.
”Kakekmu itu hilang tak tentu rimbanya. Bahkan sampe sekarang ibu juga tidak tahu dimana kuburannya. Tetapi kamu harus bangga le, soalnya sekarang nama kakekmu itu dikenang oleh banyak orang karena perjuangannya dan menjadi nama jalan di klaten sana” Ibu memang sangat bangga akan bapaknya walaupun tidak ingat lagi wajahnya karena memang tidak ada foto album yang tersimpan.
Menurut ibu, kakek hilang pada saat ramai-ramainya gerakan PKI di sekitar pintu masuk kota Klaten. Saat itu terkenal dengan Pasukan Merah. Konon pada hari saat kakek menghilang itu, kakek dalam perjalanan dari Jogja ke Klaten karena ada undangan pernikahan salah seorang teman seperjuangannya di jogja. Dengan hanya menggunakan sepeda ontanya yang cukup besar kakek berjalan dengan santai. Ditengah perjalanan, ia ketemu dengan salah seorang saudaranya yang naik andong dari arah berlawanan. Saudaranya itu bercerita bahwa diperbatasan atau di pintu masuk kota klaten ada banyak pasukan merah yang sedang melakukan sweeping. Saat itu posisinya masih di prambanan, wilayah yang terdapat candi peninggalan kebudayaan hindu terbesar di indonesia. Wilayah ini adalah perbatasan propinsi Jogja dengan propinsi Jawa Tengah. Hingga saat ini, masih ada yang menyangka kalau candi prambanan itu berada diwilayah Jogja, padahal sebenarnya sudah masuk propinsi jawa tengah, tepatnya kabupaten klaten. Kakek tetap saja melanjutkan perjalanannya dari prambanan menuju ke kota klaten, hingga akhirnya tibalah di perbatasan kota klaten, didaerah Jogonalan. Di wilayah inilah kakek terlihat terakhir, tidak ada yang tahu bagaimana kejadiannya secara persis. Bahkan seluruh warga desa Grideh pun juga tak ada yang tahu. Kakek hilang ditelan arus pergolakan saat itu.
Dengan kondisi yang yatim sejak kecil ini maka ibu selalu giat membantu nenek bekerja disawah, menanam padi, memberi pupuk, kadang juga seharian dirumah sawah menjaga agar tidak ada burung yang mencuri butir-butir padi yang sudah siap panen. Masa panen adalah masa yang paling menyenangkan, setiap tiga bulan, jika tidak diserang hama merupakan saat yang indah. Dibantunya nenek memanen padi, menjemur, hingga membawanya ke slepan agar bisa menjadi beras untuk bisa dijual. Dan tentunya setelah itu ia akan diberikan uang jajan dan uang sekolah sehingga bisa membeli buku, baju, bahkan sepatu. Masa-masa itu sepatu adalah sesuatu yang sangat mahal dan sulit ditemui orang yang menggunakan sepatu. Jika pakai sepatu, maka dia termasuk orang yang mampu. Sedangkan kalau jajanan makan, sangat jarang sekali. Kalau dirumah saja kesukaanya adalah ikan asin, nasi diberi kecap dan lauk ikan asin merupakan hal yang sudah biasa baginya. Mungkin dari kebiasaan seperti inilah yang bisa menjadi bibit-bibit perilaku ibu disaat besar, pintar menghemat, hal yang tidak dimiliki oleh bapak.
Hampir setiap hari perjalanan dari desa kesekolah dilalui dengan berjalan kaki dan kadang juga bersepeda. Baru setelah besar dan lulus dari Sekolah Dasar, oleh nenek ibu diminta agar kost saja di Solo. Madarasah Mualimin Mualimat Muhammadiyah (MMMM) Solo merupakan sekolah yang masa belajarnya hanya lima tahun, kalau saat ini sepadan dengan SMP yang dilanjutkan dengan SMA. Hanya kalau di MMMM ini bila dilanjutkan ke IAIN maka perlu masuk dahulu ke Sekolah Persiapan IAIN. Kebetulan Grideh memang lebih dekat ke Solo daripada ke kota Klaten sendiri. Sekitar sepuluh kilometer jarak tempuhnya, sedangkan jika ke kota Klaten bisa lebih dari delapan belas kilometer. Nenek sangat mendukung penuh agar ibu tetap bisa melanjutkan sekolahnya. Sehingga setelah lima tahun di MMMM ibu diminta untuk terus lanjut ke IAIN Sunan Kalijaga di Jogja. Nah disinilah Bapak bertemu dengan Ibu, dengan perantara adik bapak yang satu kost dengan ibu, Alhamdulillah akhirnya mereka bisa berjodoh.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sabtunya Ibu : Saat tiba …
Sesi-5
Tanpa terasa, telah satu jam perjalanan dari surabaya dan memasuki wilayah Mojokerto. Kota Mojokerto tidak kami lewati, hanya melalui sebelah selatannya, karena melalui jembatan tol yang kini sudah tidak ada gerbang tolnya lagi. Sepanjang perjalanan hampir seluruh rumah dipinggir jalan selalu memiliki bentuk pagar rumah yang unik, pudak berundak. Yaitu seperti tembok yang pipih luas kemudian ditumpuk-tumpuk, makin keatas makin mengecil. Kesannya adalah seperti melihat candi yang kecil dari kejauhan. Mungkin ini adalah peninggalan dari sejak jama majapahit dahulu, karena disinilah daerah pusat kerajaan Majapahit yang terkenal itu. Jombang tidak jauh dari Mojokerto, diwilayah tempat banyak tokoh lahir seperti Gus Dur, Cak Nurcholis Madjid, Emha Ainun Najib ini lumayan ramai. Disini terdapat tempat makan yang cukup ramai dihampiri oleh musafir-musafir dari luar kota, yaitu sebelah barat kota jombang ada warung Pojok dua. Harganya memang relatif murah dengan menu masakan-masakan khas jawa timur.
Setelah mampir sebentar untuk sarapan, aku langsung menggantikan istriku menyetir. Tidak tega rasanya membiarkan dia menyetir selama dua jam perjalanan ini. Dari desa Perak jombang yang penuh dengan warung pecel lele langsung kami menyeberangi sungai Brantas memasuki Kertosono. Hutan Saradan sebagai tanda bahwa disini adalah kabupaten Nganjuk tidak terlalu macet, walaupun ada beberapa truk dan bis disepanjang jalan. Nganjuk dan Ngawi tidak sebesar Jombang dan seramai Jombang, sehingga perjalanan terasa cepat sekali tahu-tahu sudah memasuki muntilan, daerah terakhir propinsi jawa timur yang berbatasan dengan Sragen jawa tengah. Di Muntilan terdapat pondok pesantren gontor khusus putri. Nama pesantren sebenarnya adalah darussalam, tetapi orang mengenalnya sebagai pesantren Gontor, karena memang yang aslinya adalah di desa Gontor Ponorogo.
”Pak, nanti ada tugu gombal khan ya ?”
Anakku yang besar secara tiba-tiba mengagetkanku dengan pertanyaan itu.
”O,ya sebentar lagi ada, tapi kayaknya tinggal satu mbak Aya, satunya sudah ditebang sehingga jadi lebih pendek.”
Dia memang tahu kalo disitu terdapat dua buah pohon di seberang jalan yang penuh dengan kain gombal. Sepertinya pohon itu ada yang menghuninya, orang dengan kondisi yang tidak begitu waras. Aku pernah melihatnya saat malam hari terlihat agak terang, seperti ada lampu didalam kain-kain bekas itu. Entah sedang apa, bertapa mungkin, tapi kok dipinggir jalan.
Lepas sudah dari Jawa Timur, nuansa jawa tengah langsung terasa, ditandai dengan banyaknya soto -soto kwali yang berjualan sepanjang perjalanan Sragen, Palur dengan bakso rusuknya, dan Solo yang sangat penuh dengan keaneka ragaman makanan. Biasanya kalau ke Solo, tidak lupa aku mampir ke pasar klewer untuk belanja baju-baju batik dan dilanjutkan dengan makan masakan soto kesukaanku, soto babat di sebelah barat solo, Kartosuro. Kalau malam juga ada masakan enak di daerah kepatihan solo, sekitar depan balai Muhammadiyah, sego liwet dengan didampingi wedang klengkeng, sangat nikmat sekali. Belum lagi yang lainnya, Soto Triwindu, Bakso Goyang lidah, Soto gading, Es dawet sargede, tahu kupat dan lainnya. Tapi hari ini aku tidak mampir solo. Aku harus mengejar waktu agar segera sampai di Klaten.
Begitu masuk Delanggu, yang merupakan daerah pertama wilayah Klaten, hatiku langsung bergemuruh. Tak sempat lagi aku lirik tempat gethuk lestari kesukaanku diawal Delanggu. Tak kupedulikan lampu lalulintas yang merah diperempatan delanggu. Tampaknya tidak ada polisi yang mengejar, mungkin mereka menyadari kegundahan hatiku ini. Saat di solo tadi, tiba-tiba ada telepon masuk. Entah siapa yang menelepon, menanyakan aku sampai dimana, dan diminta langsung kerumah saja.
Akhirnya perjalanan terhenti tepat di pertigaan selatan rumah depan toko Arafah
tetanggaku sekitar yang berjarak lima puluh meteran dari rumah, aku nggak bisa masuk. Banyak sekali mobil disepanjang pinggir jalan itu. Dan terdapat bendera warna merah.
Dess..Hati ini langsung down. Aku merasa berada diawang-awang. Untungnya mobil masih bisa kuparkir didepan toko Arafah. Ada tetangga yang mengambil alih mobil, dia akan memindahkan ke tempat yang lebih aman. Dekat rumah yang sudah penuh dengan manusia dan tenda yang panjang sekitar tiga puluh kali sepuluh meter. Ibu memang orang yang sangat amat baik, bahkan kepada siapapun, jadi aku tidak heran kenapa kok banyak sekali orang yang datang. Aku langsung lari sambil menggendong anakku Ainaya, adeknya digendong istriku. Bapak sudah menyambut didepan.
”Ibumu le, ibumu.. ”
Aku langsung tahu maksudnya. Kulihat bapakku yang terlihat tabah , tidak terlihat bekas air mata dipipinya itu langsung kupeluk, walaupun aku tahu bahwa hati-nya pasti hancur. Sebagaimana hati anaknya ini.
"Innalillaahi wa Inna Ilaihi Rooji'uun",
Bapak memang sangat tergantung sekali dengan ibu. Ini terlihat sekali khususnya saat kudengar cerita dari mbak Rani, Bagaimana bapak berteriak histeris saat dikatakan oleh dokter bahwa ibu sudah meninggal. Ternyata kejadiannya beberapa saat setelah aku menelepon mbak Rani tadi pagi, tepatnya saat mbak Rani minta aku untuk pulang segera. Ia tidak berani langsung mengatakannya kepadaku. Aku tidak pernah melihat bagaimana histerisnya bapak, jika kubayangkan pasti sangat mengenaskan karena tidak pernah dibayangkan bahwa akan secepat ini, padahal rencananya hari ini ibu akan pulang.. ternyata maksudnya adalah pulang ke rakhmatullah...Inilah peristiwa tersedih pertama dalam hidupku, tak ada yang diluar ini yang menyebabkan aku teramat sedih. Tak ada. Aku sangat merasa bersalah, aku seharusnya sudah kemarin-kemarin bisa datang, tidak perlu sibuk untuk ikut-ikutan rafting, tidak perlu menunda-nunda.
Sehari penuh itu rasanya dunia ini terasa kejam sekali, menyedihkan. Tak ada kejadian yang lebih menyedihkan dari ini. mulai dari pagi hingga akhirnya aku ikut menyolatkan Ibu, mengantarkannya menuju liang kubur di area pemakaman. Seluruh saudara hadir, tapi itu malah membuatku semakin teringat padanya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sabtunya Ibu ....
Sesi-6
Ibu yang sangat sederhana,
Ibu yang suka makan ikan asin
Ibu yang suka dengan anggrek
ibu yang suka membantu orang lain

ibu yang sangat jarang marah
ibu yang sangat murah senyum
ibu yang senantiasa menunggu suaminya hingga malam hari
ibu yang senantiasa mendengarkan berbagai masalah suami dan anaknya
ibu yang sering memberi
ibu yang tak pernah mengeluh
ibu yang tak pernah mau menyusahkan anaknya
ibu..
Engkau penuh dengan kebahagiaan
Ya Allah kepada Engkaulah kami akan dikembalikan,
Berikanlah tempat yang dirindukan kepada ibu kami...Ya Allahhh.
Sabtu ini sabtunya Ibu.
@abuafi

Monday, August 07, 2006

Friday, June 02, 2006

Gebrak Jum’at-an..!!
@abuafi

Surabaya, Jum'at 2 Juni 2006

Kerikil kerikil sepanjang jalan terasa agak pedih saat terkena ujung jempol kaki ini. Sandal jepit yang kupakai memang sandal yang terjelek dari sandal siapapun, sudah bulukan katanya. Memang sengaja membawa sandal jepit itu ke masjid untuk ikutan sholat jum’at di masjid dekat kantor. Yah maklumlah, orang yang menganggap “ambillah yang baik dan buanglah yang buruk-buruk” itu masih ada saja dan diimplementasikan ba’da sholat jum’at, benar-benar waktu yang cocok.

Masjid itu sangat menarik (atau musholla ? sama saja lah yang penting tempat sholat). Sepertinya adalah bekas ruangan yang sebelumnya tidak terpakai, mungkin bekas salah satu kamar pasien. Lokasinya memang merupakan bagian dari sebuah rumah sakit, ada di komplek rumah sakit bagian belakang. Inilah yang menarik, yaitu adanya sebuah masjid dengan fasilitas ber AC plus kipas angin dan tempat wudlu yang layak di sebuah rumah sakit swasta milik yayasan kristen katholik. Sebuah fenomena indah...

Awalnya kutbah jum’at itu berlangsung menarik, isinya cukup berbobot, level mahasiswa pasti tertarik, tetapi sayangnya jamaahnya adalah multi generasi. Sehingga waktu tengak-tengok sekeliling terlihat jelas hanya satu-dua orang yang menengadah, lebih dari delapan puluh persen dibarisanku tertunduk menikmati ‘alunan’ ceramah yang serasa seperti dongeng sebelum tidur.

Tidak tahu apakah sebelum-sebelumnya sudah ada atau belum ya peneliti dari STAIN atau lainnya yang melakukan survey seberapa efektifkah pelaksanaan sholat jum’at saat ini. Apakah jamaah banyak yang tidur ?.. apakah yang muslim selalu ikut sholat yg Cuma seminggu sekali itu ? Siapa sajakah mereka ? Apakah banyak orang berduit atau kebanyakan orang tak berduit ? Tidak tahu.

Itu selalu yang dijawab oleh orang-orang. Apakah benar demikian. Jika dicoba searching ke search engine internet www.google.com kata-kata “shalat jumat”, maka ada lebih dari tujuh puluh ribu kata itu di dunia maya. Adakah diantaranya yang membahas tentang efektifitasnya ? Bisa dikatakan tidak ada. Tetapi ternyata ada juga sedikit tulisan tentang seseorang yang mengeluh kenapa kok dia sering ngantuk kalo pas shalat jumat ?.
Pertanyaan memang terkesan sangat sederhana, tetapi jika tidak pernah dibahas oleh para ulama, akankah ini dibiarkan saja hingga akhirnya kutbah jum’at dinyatakan sebagai bagian dari ’dongeng sebelum tidur’ ?

Dari beberapa kali survey kecil yg dilakukan oleh penulis, ternyata pada satu shaf / baris yang terdiri dari hampir dua puluh orang jamaah, tampak sekali yang mendengarkan kutbah dengan cermat tidak sampai sembilan orang, sepertinya hanya ada tujuh. Jika ternyata terdapat sepuluh shaf, maka yang tertidur nyeyak berarti sekitar seratus sepuluh jamaah tertidur atau ngantuk. Berapa persenkah yang mengantuk ? lebih dari 55% jamaah mengantuk atau tertidur saat sang khatib sedang berkutbah. Apakah angka 55% ini kecil ?

Jika dirunut dari Syarat sah-nya Ibadah Shalat Jum'at : Pertama diadakan di tempat menetap, kedua berjamaah (masalah ini ada khilafiah mengenai bilangan jamaah, ada yang berpendapat harus 40 jamaah, atau lebih 40, atau cukup dua orang), ketiga dikerjakan pada waktu dhuhur (sebagai pengganti shalat dhuhur) dan terakhir didahului dengan dua khutbah. Berarti seseorang musti melaksanakannya setelah dua kutbah, kutbah yang bagaimanakah ?Rukun Khutbah sebenarnya terdiri dari enam bagian : pertama mengucapkan pujian pada Allah (hamdalah), kedua membaca shalawat untuk Rasulullah, ketiga mengucapkan syahadah, keempat berwashiat (menasehati jamaah) dg taqwa dan mengajarkan tentang Addiin, kelima membaca ayat Alqur'an, dan keenam adalah berdoa untuk mukminin dan mukminat pada khutbah ke dua. Secara fisik pada rukun kutbah ini tidak didetilkan, tetapi pada syarat kutbah mungkin bisa lebih jelas.Adapun syarat dua khutbah itu sendiri ada tujuh poin : pertama dimulai setelah masuk waktu shalat dhuhur, kemudian sewaktu khutbah hendaklah berdiri (kondisi fisik), ketiga Khatib duduk diantara dua khutbah (juga fisik), dan keempat hendaklah dg suara yang jelas dan keras sehingga terdengar oleh jamaah (mungkin bisa terwakili dengan sound system), kelima hendaklah berturut-turut baik rukun maupun kedua khutbah, enam adalah Khatib suci dari hadas dan najis, sedangkan yang terakhir adalah bahwa Khatib hendaklah menutup aurat.

Pada syarat kutbah sebenarnya secara fisik sudah ditunjukkan, yaitu kondisi khatib adalah berdiri dan duduk, tidak disebutkan disana apakah bisa jalan-jalan atau tidak. Tetapi momen saat kutbah itu adalah prerogatif dari khatib itu sendiri.

Pada suatu saat Nabi Muhammad sedang berkutbah bahkan sempat memberikan pertanyaan kepada salah seorang jamaah yang kebetulan datang terlambat. Karena jamaah itu langsung duduk maka di tanya oleh Rosul apakah sudah shalat tahiyatul masjid atau belum, karena dijawab belum maka diperintahkannya untuk sholat. Pada hadist ini sedikit banyak memberikan alasan bahwa dialog antara jamaah dengan khatib saat kutbah pun dimungkinkan.

Dari pelbagai hal diatas sebenarnya apakah tidak diperbolehkan kegiatan kutbah jum’at itu dibuat lebih variatif ?
Ada usulan agar kutbah jum’at menggunakan perangkat tambahan seperti LCD projector, komputer, VCD, DVD, TV, dan lainnya sebagai alat bantu pada saat kutbah. Sedangkan untuk mekanismenya pun sebenarnya juga bisa dengan cara yang berbeda. Metode interaktif dengan jamaah misalnya, dengan didukung alat bantu yang canggih maka interaksi langsung dengan jamaah yang agak berjauhan pun masih dimungkinkan.

Itu semua adalah ide sederhana, sebuah usulan yang mungkin hanya bisa sebagai hiasan wacana pemahaman mengenai ibadah shalat jum’at. Kewenangan hal seperti ini memang bukan bagian keahlian dari penulis. Penulis hanya seorang masyarakat awam biasa yang masih banyak belum mengerti perihal penafsiran hadist, Al Qur’an dan kajian pemahaman lain perihal masalah ibadah. Tetapi usulan kecil ini mudah-mudahan sedikit banyak bisa membuka wacana baru dalam pemahaman kita terhadap ibadah ritual sehari-hari.

Sambil mendengar ceramah yang sudah setengah jam lebih. Otak ini ikut hanyut membayangkan bagaimana mereka-mereka yang hari ini jum’atan di Bantul ?.. Bagaimana mereka Jum’atan kalo pada nggak punya sarung ? padahal celananya sudah hampir satu minggu nggak ganti, pasti najis.. Dimana mereka jum’atan ? bagaimana kalo kehujanan ?..
Bagaimana.. ?
Bagaimana.. ?
Zzzzzzz...

”Allahu Akbar Allahu Akbar...” Lantunan Iqamah mengagetkanku sehingga aku terbangun, semua jamaah sudah berdiri siap untuk Sholat Jum’at. Aku langsung berdiri mengikuti yang lain walaupun kaki masih terasa kesemutan.
Ya Alloh, kesenanganku mengkritisi orang ternyata membuatku melupakan untuk membangunkan diri ini agar lebih baik dahulu..Astaghfirullah al adzim.


~b~

Friday, May 12, 2006


Cairan hitam itu bisa bikin tidur nyenyak ?
(3 of 3 - habis)
@Abuafi
29 Maret 2006

Ternyata temanku sudah KO,sleeping.. ia tampak sedang menikmati benar tidurnya. Kucoba sentuh tangannya, masih bergeming, coba lagi ngitik-itik telapak kakinya, tetap tidak bergerak sedikitpun. Posisi tubuhnya miring dengan wajah tepat mengarah ke meja kecil yang ada kopi. Kopinya sendiri kulihat masih ada seperempatnya, entahlah apakah awalnya segitu atau sudah diminum. Yang jelas tampaknya teori tentang kopi bisa membuat tidur nyenyak sudah dibuktikan. Entahlah kenapa ya kok bisa ?

Esok harinya terpaksa lanjut kembali acara 'nyangkul'nya, memang harus begitu. Karena ini kan namanya juga cari duit. Pekerjaan tetap pekerjaan, tidak ada yang berbeda, rapat ya tetap rapat, dibiarkan aliran air pekerjaan ini mengalir pada saluran yang sesuai dan seperti yang diarahkan. Bila dialirkan ke saluran yang salah maka pasti aliran air hasil pekerjaan itu akan salah, bila salurannya bocor bisa dipastikan hasilnya pun akan menjadi sedikit atau bahkan menjadi tidak ada sama sekali. Disinilah sebenarnya uniknya hidup dimana salah satu isinya adalah menyangkul agar suatu saat bisa menikmati panenan. Saat dimana hasil cangkulan itu khan terasa indahnya dikala kita tahu bahwa pupuk yang disebar, air yang diisikan, bibit yang ditanam, semuanya adalah bersumber dan dilakukan dengan cara yang halal. Begitukah sulitnya hidup secara halal didunia indonesia ini ? ungkapan yang sering terdengar adalah " Wong cari yang haram aja susah, apalagi yang halal !" mudah-mudahan hanyalah ungkapan saja,..Wallahu'alam bishshowab.

Untungnya karena jalur kekantor itu melalui gambir, akhirnya bisa memesan tiket kereta mutiara selatan. Lumayan, harganya tidak terlalu mahal bila dibandingkan dengan pesawat. Dan karena waktu juga cukup mepet, maka setelah beli tiket langsung meluncur lagi dengan teman setia si bajaj menuju kantor didepan monas. Kantor yang cukup mentereng memang, tapi sayang fasilitas didalamnya sudah termasuk kategori oldies, khususnya jika dibandingkan dengan gdung perkantorang saat ini yang dari sisi bangunannya saja sudah menunjukkan kelasnya. Tetapi bagaimanapun ini adalah kantor yang harus saya kunjungi dalam rangka 'mencangkul' dibumi ini, mudah-mudahan ada sedikit hasil panen yang bisa dibawa pulang nanti untuk diberikan ke dua generasi penerus dirumah.

----**----

Menunggu memang pekerjaan membosankan. Menunggu datangnya kereta yang sebenarnya hanya satu jam terasa bagaikan satu hari saja. Tidak terbayangkan rasanya membayangkan orang-orang yang pekerjaannya adalah menunggu, penjaga palang kereta api, satpam bank, satpam gudang, satpam perumahan, satpam kantor, penjaga tower relay TV di kupang sana, penjaga stasiun bumi untuk telkomunikasi di Biak papua, semuanya intinya adalah menunggu. Pasti begitu banyak berkah yang ada jika itu semua dilakukan dengan keikhlasan. Stasiun gambir sangatlah ramai, dengan lantai atas yang menjadi tempat rel lintasan kereta itu otomatis membuat suasana stasiun menjadi sangat riuh dan juga terasa sekali getaran-getaran yang ditimbulkan oleh lalu lalangnya kereta api. Hingga akhirnya tibalah saat itu, saat pulang kembali kekampung halaman Surabaya.

Kereta yang tadinya dibayangkan seperti kereta Turangga Surabaya-Bandung ternyata sangat meleset jauh sekali. Walaupun kadang di Turangga itu kedinginan dan sering ditemani bahkan diintip oleh penumpang gelap berbadan gelap (baca : penumpang gelap) tetapi yang ini lebih buruk lagi. penumpang gelap tetap ada, bahkan dikereta ini ada juga yang berbadan tidak gelap (manusia). hampir bisa dikatakan setiap lima menit selalu ada saja orang berjualan. Porsi yang terbanyak adalah dari petugas kereta itu sendiri (pramugara-pramugari kah namanya ?).

" Nasi goreng - nasi goreng "
" Steak.. steak.. steak daging "
" Bantal..bantal"

belum lagi saat di pemberhentian atau stasiun-stasiun yang dilalui, karena sering berhenti otomatis lebih sering lagi teriakan-teriakan itu.
" Nasi pecel mas.. "
" Oleh-oleh.. oleh-oleh"
" Tarahu sumedang.. tahu sumedang"
" Rokok, permen, coklat, korek.. "

Walaupun begitu aku tetap berusaha untuk memejamkan mata ini sambil dipangkuanku kupegang erat tas laptop punya kantor seharga sepuluh juta itu. Kuanggap saja teriakan-teriakan itu bagaikan lantunan lagu pengantar tidur,.. tapi memang sulit !.

Dan dari teriakan-teriakan itu memang ada yang ditunggu-tunggu oleh kawan saya.
" Teh hangat.. kopi.. jeruk "

Kopi !
Hmmm memang ini rasanya yang menjadi obat mujarabnya, tanpa kopi serasa belum pas.
" Satu mas kopinya.., Tubruk bukan ? " tanyanya
" Oh ya pasti pak, ini aseli tubruk kok, masih panas dan kental, silahkan pak "

Hmm.. terlihat memang kopinya sangat kental, hitam kotor. Bubuk kopinya pun masih terlihat di permukaannya. Untungnya sudah tersedia sendok pada gelas itu sehingga akhirnya diaduk dululah agar bisa nantinya dinikmati. aku menikmati detik-detik mengasyikkan dari si pehobi kopi ini.

Pelan-pelan tapi pasti tangannya terlihat mengaduk-aduk cairan hitam pekat yang mekin lama malah tambah pekat. Setelah itu teman saya ini dengan santainya meletakkan kembali gelas besar itu pada meja dinding yang kecil dipinggir jendela kereta, mungkin masih panas airnya. Sambil menyipitkan mata ini seperti orang yang sedang mengintip, aku terus memperhatikannya. Siapa tahu bisa membongkar rahasia kenapa kok kalo dia minum kopi malah bisa tidur nyenyak.

Tadinya aku mengharapkan ia akan langsung menyeduh kopinya sendok persendok seperti halnya orang-orang lain yang menyukai kopi. Tetapi ternyata tidak, ia terlihat asyik memperhatikan proses pengendapan bubuk kopi yang membaur dengan air panas. Buih-buih hasil adukannya masih terlihat jelas. Matanya menatap tajam buih-buih itu hingga akhirnya menjadi semakin kecil. Butiran-butiran hitam didalam air yang sedang jatuh ke dasaran kopi sangat menarik hatinya mungkin, karena saya melihat ia tidak pernah melepaskan pandangannya. Satu menit saya hitung, tetap bergeming matanya menatap cairan hitam pekat itu. Waktu semakin berjalan, hingga akhirnya saya bosan, sudah tiga menit kok tetap saja didiamkan. Akhirnya saya membalikkan tubuh kearah penumpang diseberang kiri dan coba menutup mata selekat mungkin serta menganggap alunan suara yang ramai sebagai hiburan. ternyata tetap saja tidak bisa. Sepuluh menit berlalu, balik badan lagi... ternyata mata teman saya sudah terpejam, sudah tertidur, sepertinya sangat lelap. Coba kusenggol tangannya ternyata tetap bergeming. benar-benar lelap !!

Yah ternyata itu tho penyebabnya... pantes aja kopi bisa bikin tidur nyenyak dan lelap, lha wong kopinya bukan untuk diminum tapi untuk tontonan.. wah kayaknya aku juga mau coba ahhh.. :-)

------- SELESAI ---------


Cairan hitam itu bisa bikin tidur nyenyak ?
(2 of 3)
@Abuafi
29 Maret 2006

HI atau Hotel Isye ini merupakan losmen yang bangunannya sama sekali tidak mirip penginapan, karena didepan nya ada toko mainan dan ada wartelnya juga. Berupa bangunan rumah biasa dengan satu tingkat diatasnya, memanjang kebelakang, karena lebarnya tidak sampai sepuluh meter tetapi kebelakangnya mungkin lebih dari duapuluh meter. Bagi pendatang baru yang belum pernah kesana akan ragu-ragu memasukinya. Dari penghuni yang masuk kesana memang kebanyakan adalah pelanggan tetap seperti karyawan-karyawan yang sedang ditugaskan ke kota Jakarta. Dan letaknya yang sangat strategis (jalan kaki ke Sarinah sangat dekat) dan biaya yang murah membuat losmen ini cukup ramai. Satu hal yang pasti juga adalah bahwa losmen ini bukan losmen tiga jaman. Tiga jaman itu bukan berarti jaman belanda, jaman jepang dan jaman merdeka maksudnya, tetapi 3 jam-an yaitu tempat yang biasa dipake oleh pekerja-pekerja yang sangat perlu kita kasihani, orang - orang yang sangat butuh 'pencerahan'. Hingga saat ini hotel losmen ini memang relatif 'bersih', mudah-mudahan seterusnya.

Hingga akhirnya malam itu karena saking lelahnya lansung masuk ke kamar tidur, merebahkan diri tanpa memperdulikan kalau badan bau keringat yang mengering. Perut yang keroncongan ternyata sudah memberikan alarm, jam didinding sudah menunjukkan pukul delapan malam tepat, saatnya makan malam.

" Gimana nih pak ? ada yang protes nih" sambil kutunjukkan ke perut buncitku.
" Iya ya, nggak terasa udah jam delapan. Sama perutku juga udah bunyi juga"
" Ke Sarinah situ aja ya, kalo nggak salah di bawah ada food court. Mudah-mudahan masih pada buka "
" Hayo kalo gitu buruan aja, nggak usah mandi lah kan udah biasa.. hahaha"

Dengan mantap kasur yang sudah dikasih virus keringat langsung kami tinggalkan tanpa tengok kanan tengok kiri. Hari semakin malam, dengan penerangan jalan yang kurang terang membuat seakan-akan seperti bukan di jakarta saja. Lalu lintas didepan losmen ternyata masih ramai, sehingga lampu kendaraan itulah yang membantu penerangan saat menelusuri trotoar yang penuh dengan besi berukuran tiga puluhan centi meter.
Hmm kok ada besi di tengah trotoar ? apa mungkin maksudnya agar tidak ada pedagang kakilima yang mangkal ?..wah ide kreatif juga nih pemkotnya...

Saat ngalamun itu, tiba-tiba..
DUG !!!..

" Innalillaah, aduh.." secara tiba-tiba aku teriak kesakitan.
" Eh, ada apa pak ? " temanku langsung melihat kebawah mencari-cari penyebab kenapa kok saya teriak.
" Ini nih pak, kakiku kena besi .. waw kok sakit gini ya.. ini besi apa sih ?" dengkul kaki kiri ini rasanya seperti habis dipukul oleh palu raksasa. Dengan amat terpaksa deh, aku nambah oleh-oleh dari Jakarta.

Tetapi perjalanan mencari sesuap nasi itu harus tetap berlanjut. Dan akhirnya walaupun kaki kiri harus sering diseret-seret karena linu, sampai juga di Sarinah. Untungnya Food court di lantai dasar Sarinah masih buka, walaupun beberapa stand sudah terlihat tutup karena memang pengunjungnya sudah kelihatan sepi. Nasi goreng sambal terasi di Es Teler 77 bisa menyelamatkan dan menenangkan diri ini dari keadaan yang terlunta-lunta dan nyaris terkena busung lapar. Dengan tubuh yang sudah mulai terisi gizi dan vitamin membuat lebih mantap lagi untuk mengelilingi Sarinah hingga ke lantai lima tempat tersedianya buku-buku dan juga ada warnet pula ternyata. Tidak banyak barang yang dibeli disana, hanya beberapa makanan kecil di bazaar yang mudah-mudahan bisa menemani saat istirahat dikamar.
Tepat pukul setengah sepuluh malam akhirnya sudah sampai di kamar. Depan losmen sudah mulai ramai karena ada warung kopi kaki lima disana. Tentu saja teman saya ini langsung tertarik dengan warung itu
" Mau kopi pak " tanya temenku dengan ceria, ketemu jodo kayaknya.
" Silahkan sampeyan saja pak, aku udah ngantuk nih, badan rasanya capek banget, belum mandi lagi"
" Lho justru kalo ngopi malah bisa bikin nyenyak tidurnya pak.."
" Ah sampeyan iki yang bener aja"
" Pengen bukti ? oke ya nanti tak buktikan "

Wah jadi penasaran nih, kayaknya kok aneh sekali. Biasanya kalo orang minum kopi itu kan pasti malah bikin tambah melek, sulit tidur. Tapi kok kata teman saya itu malah bisa bikin tidur nyenyak ? Benar-benar berlawanan dengan kebiasaan. Kalau secara teori kan sebenarnya sudah jelas bahwa pada kopi mengandung unsur cafein yang ada dapat meningkatkan kegiatan beberapa bagian susunan saraf pusat yang pada umumnya mengakibatkan orang merasa segar sampai sulit tidur (secara positif dianggap sebagai penghilang rasa kantuk) dan bergairah. Orang Arab terkenal sebagai bangsa yang pertama kali menanam pohon kopi dan mengolah kopi tersebut menjadi minuman dan menyebutnya minuman qahwa, yang berarti pencegah tidur. Kopi memang lebih dikenal sebagai minuman yang selalu dikonsumsi kala kantuk melanda. Tapi perlu diingat dosis kafein yang tinggi dapat berpengaruh terhadap denyut jantung dan frekuensi pernafasan.

Rasa penasaran itu terus kubawa sambil mandi. Sebenarnya aku ingin cepat mandinya, tetapi tampaknya aku harus buang air besar dulu, sehingga akhirnya aku baru selesai setelah sepuluh menit didalam kamar mandi. Saat mandi kudengar lamat-lamat ada orang yang masuk kamar, mungkin orang warung depan yang mengantar kopi tubruknya temanku. Kudengar pula jawaban temanku yang menanyakan kepastian apakah itu kopi tubruk atau bukan. Mungkin dia ingin kepastian, takut salah pesan.

Akhirnya aku selesai mandi dan langsung aku ke kasur. Tetapi aku langsung kaget dengan apa yang kulihat di kasur, temanku.. iya temanku itu..

...MAAF BERSAMBUNG LAGI YA...
resep donat empuk ala dunkin donut resep kue cubit coklat enak dan sederhana resep donat kentang empuk lembut dan enak resep es krim goreng coklat kriuk mudah dan sederhana resep es krim coklat lembut resep bolu karamel panggang sarang semut